Wednesday, March 10, 2004

hmmmm... Fahda nama baby ku.. FAHDA NUR SAKINAH.

Tuesday, April 15, 2003

ishh ishh lama tak jenguk blogger... mama busyyyyyyyyyyyyyyyy...

Wednesday, March 05, 2003

// tak mabuk sangat............

Hari ni mama tak mabuk sangat cuma selera makan tu tak ada. semalam mama dan ayah makan di luar.. mama makan laksa sebab rasanya yang masam..

Tuesday, February 25, 2003

>// Urine Test +ve....
Hari ini menjadi hari yang agak bersejarah buat Mama. Kerana pertama kali, urine test yang mama buat, keputusannya positif. Alhamdulillah.. setelah sembilan bulan usia perkahwinan Mama dan ayah. Sejak seminggu lalu Mama mula terasa asyik lapar dan selalu nak makan. Setiap malam pula Mama selalu demam dan badan terasa penuh dengan angin. Kalau dipicit sekal mesti sendawa berpanjangan.

Hari ni Mama mula terasa pening2. Walaupun tiada rasa loya dan muntah, namun terasa macam badan ini melayang2 dibuatnya. Mama harap simptom begini tidak berpanjangan...

Jumpa lagi...

Monday, February 24, 2003


// Story : Cost of a Mothers Love

A little boy came up to his mother in the kitchen one evening while she was fixing supper, and he handed her a piece of paper that he had been writing on. After his mom dried her hands on an apron, she read it, and this is what it said:

For cutting the grass: $5.00
For cleaning up my room this week: $1.00
For going to the store for you: .50
Babysitting my kid brother while you went shopping: .25
Taking out the garbage: $1.00
For getting a good report card: $5.00
For cleaning up and raking the yard: $2.00
Total owed: $14.75

Well, his mother looked at him standing there, the boy could see the memories flashing through her mind. She picked up the pen, turned over the paper he'd written on, and this is what she wrote:

For 9 months I carried you while you were growing inside me: No Charge.
For all the nights that I've sat up with you, doctored and prayed for you: No Charge.
For all the trying times, and all the tears that you've caused through the years: No Charge.
For all the nights that were filled with dread, and for the worries I knew were ahead: No Charge.
For the toys, food, clothes, and even wiping your nose: No Charge,

Son,
When you add it up, the cost of my love is: No Charge.
When the boy finished reading what his mother had written, there were big tears in his eyes, and he looked straight at his mother and said,
"Mom, I sure do love you".

And then he took the pen and in great big letters he wrote: "PAID IN FULL"

It is reported that a man came to the Prophet(sallallaahu alaiyhi wassallam) and asked:
"Messenger of Allah, who is the most deserving of good care from me?" The Prophet (sallallaahu alaiyhi wassallam)replied: "Your mother (which he repeated three times) then your father, then your nearest relatives in order".

Sunday, January 26, 2003

//Puisi : Buat Seorang Anak

Hari ini anakku
Kejahilan amat mencengkam hidup
Hinggakan kita tak pasti yang mana perlu di ikut
Di ikut kiri, si polan akan berkata kananlah yang benar
Jika ke kanan, si polan dari belakang pula tertawa
Sungguh keliru
Sungguh kusut

Anakku
Berhati-hatilah hidup di zaman ini
Kerana
Ramai ilmuan yang ada banyak yang tidak teriktiraf ilmunya
Yang melepaskan kata-kata sekehendak hati
Peduli apa, asalkan ada orang yang dengar dan mengangguk
Pedulikan tanggungjawab sosial,
kerana aku juga sedang menyelongkar tentang sosial
Kebobrokan peribadi seseorang perlu aku sebarkan seluas-luasnya biarpun aku
hanya mendengar sumbernya secara tak pasti
Pergi mampus kepada peribadi yang diserang untuk membela
Kalau dia mendengar ketika ini, dan tidak benar, saman di mahkamah
Inikan negara demokrasi. Ha..ha..ha..
Fitnahkah atau tidak, usah peduli

Oleh itu anakku,
persiapkanlah dirimu dengan ilmu yang benar
agar kau terus bernafas di jalan yang lurus

Tuesday, January 07, 2003

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.